Minggu, 14 Februari 2016

Kekurangan Bukanlah Alasan Tidak Berbagi

Suatu hari, saya sedang berada di Masjid Kampus UGM untuk menanti pelaksanaan salat Jumat. Saat itu saya sedang menghadiri acara yang diselenggarakan tim redaksi SKM UGM Bulaksumur, yang kebetulan bermarkas tak jauh dari Masjid Kampus. Oleh karena itu, dengan alasan kedekatan, saya memilih untuk salat di sana ketimbang di Rektorat.
Setelah melaksanakan salat sunah, saya memutuskan untuk membaca Quran untuk membunuh waktu. Sekadar informasi, saya adalah orang yang bisa dibilang terlambat belajar membaca Quran secara intensif. Waktu kecil, saya bukan anak yang tuntas mengaji di TPA. Hal ini yang kemudian agak saya sesali saat dewasa. Walaupun sudah jauh lebih baik dari dulu, bacaan saya masih perlu dibenahi di sana-sini.
Sembari membaca dengan penuh perjuangan dan rasa sesal, tiba-tiba seorang lansia datang mengambil tempat duduk di samping saya. Masjid pada saat itu terbilang masih sangat lowong, dan saya sedikit heran mengapa beliau mengambil tempat di sebelah saya. Orang itu berdiri sejenak untuk melaksanakan salat, dan saya pun meneruskan bacaan.
Begitu selesai melaksanakan salat, orang ini terlihat meraih sejilid Quran dari rak di depannya. Namun demikian, beliau tidak segera membuka Quran tersebut, namun malah mendekat, seakan ingin mendengar bacaan saya. Kalau boleh jujur, sebagai orang yang masih belum sepenuhnya lancar membaca Quran, saya minder apabila bacaan saya didengar oleh orang. Meski begitu, saya terus membaca saja, hingga akhirnya pria tua itu menepuk bahu saya. Demi menghormati orang ini, saya kemudian mengakhiri bacaan Quran dan merespons tepukan beliau. “Nak, saya minta tolong diajari baca Quran,” ujar beliau dengan senyum ramah, khas seseorang yang sudah banyak menikmati asam garam kehidupan. Saya agak tercengang, mengapa beliau ingin diajari oleh seseorang yang bacaannya belepotan seperti saya. “Bacaan saya belum lancar, Pak,” ujar saya dengan halus. Jawaban beliau selanjutnya membuat saya merinding, “Saya malah nggak bisa baca Quran, Nak,” tambah beliau. “Bantu saya ya,” pungkasnya, masih dengan tersenyum.
Akhirnya, di sisa waktu yang masih ada sebelum azan Jumat, saya mengajari lansia ini membaca Quran. Di setiap huruf yang saya tuntunkan, ada rasa malu, takut, tersindir, dan bangga bercampur aduk di dalam hati. Ya Allah, Engkau terlalu baik, bahkan saya yang belepotan ini masih diberi ruang pahala sebagai penyalur ilmu—sesuatu yang menurut saya, hanya bisa saya lakukan apabila sudah mampu membaca dengan lancar. 
Saya tidak akan melupakan bagaimana bahagianya ekspresi beliau saat kami bersama-sama menyelesaikan satu ayat yang cukup panjang. "Makasih ya, Nak," ujarnya penuh ekspresi kegembiraan. Dari tatapan matanya, saya melihat bahwa beliau baru saja menemukan sesuatu dalam hidupnya yang telah lama hilang. Orang itu pun mencoba mengulangi bacaannya sendiri, dan saya merefleksi diri sejenak.
Ada kalanya, kita enggan untuk berbagi dengan alasan bahwa kita masih kekurangan. Padahal, melalui jalan berbagi itulah, sebenarnya kita menemukan diri kita sendiri, yang kemudian memudahkan kita untuk menerima lebih. Apalagi apabila kita berbicara soal ilmu. Phil Collins pernah mengatakan, “in teaching you will learn, and in learning you will teach”. Allah rupanya ingin membesarkan hati saya, bahwa ternyata saya yang belepotan ini masih mampu berbagi ilmu dengan seorang lansia yang ingin belajar. Dari sana, saya belajar untuk membaca dengan lebih telaten, dan perlahan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang selama ini saya buat saat membaca. Pelajaran berikutnya yang saya dapatkan, adalah tidak ada kata terlambat untuk berusaha. Seandainya yang datang pada saya adalah anak kecil, bukan seorang pria tua, mungkin akan beda ceritanya.
Saya yakin, bahwa kehidupan di dunia ini layaknya menghubungkan titik-titik yang terputus. Pun, setiap dari kita lahir dengan peran masing-masing di dalam menghubungkan titik tersebut. Oleh karena itu, sekecil apa pun peran yang mampu kita berikan bagi orang lain, ada baiknya kita mulai memberi. Kekurangan hanyalah persepsi, karena apa yang kita pandang kekurangan, sejatinya merupakan kelebihan yang tengah dicari-cari oleh orang di sudut kehidupan yang lain. Saat kita enggan berbagi, barangkali kita berpikir bahwa apa yang kita tawarkan itu tak ada nilainya, namun bagi orang lain yang sedang menghubungkan titiknya, itu berarti segalanya.
Jumat itu, dengan datang lebih awal di masjid, saya pulang dengan sebuah pelajaran hidup yang akan saya kenang untuk bertahun-tahun ke depan.

Minggu, 31 Januari 2016

Saya Tidak Sedang Bersaing dengan Siapapun

Beberapa minggu selepas hijrah dari Jogja, saya mengalami semacam kegelisahan. Hati saya dipenuhi perasaan-perasaan yang tak menentu sejak menginjakkan kaki kembali di Surabaya. Saya tidak dapat tenang memikirkan banyak hal. Misal, membayangkan ketatnya kehidupan akademik yang akan saya temui di Sydney, serta—barangkali karena gejala quarter-life crisis—saya pun merasa insecure membayangkan apakah saya sudah cukup baik untuk menjadi seorang pendamping hidup. Nah, saya makin insecure lagi membayangkan kondisi saya yang masih sendiri, sementara itu, tentu saja banyak orang yang ada di atas level saya datang silih berganti.
Hingga pada suatu titik, saya memikirkan, bahwa perspektif seperti ini mulai menggerogoti semangat saya bagaikan rayap memakan kusen. Pola pikir ini hanya membuat transisi saya menjadi kontraproduktif. Only a fool breaks his own heart, begitu dendang Mighty Sparrow. Akhirnya, saya pun mengambil momen untuk merombak ulang cara pandang saya terhadap meraih impian hidup.
Catur vs Tetris
Saya pernah menjadi seseorang dengan prinsip “hidup adalah sebuah kompetisi” terpatri di otak. Rupanya, inilah akar permasalahannya. Pertama, saya sadar, bahwa ada kalanya berhenti berpikir bahwa hidup ini merupakan sebuah arena persaingan. Tom Bair, dalam artikelnya di Medium, menuliskan bahwa hidup ini lebih mirip sebuah permainan tetris ketimbang catur. Dalam analogi permainan catur, ada dua hal yang menjadi penekanan: (1) perspektif hidup yang serba hitam-putih: zero-sum, pandangan hidup yang serba membagi hidup menjadi kutub “aku” melawan “mereka”; (2) gagasan bahwa hidup ini terdiri atas rangkaian sebab-akibat yang kaku: benar menggerakkan pion, satu jalur terbuka; salah menggerakkan pion, maka skakmat kaudapat. Dalam perspektif catur, hidup adalah sebuah pertempuran yang hanya memberikan satu kesempatan, tanpa ampun.
Sekarang, mari kita bandingkan dengan bagaimana Bair menyajikan analogi tetris. Tetris adalah permainan yang repetitif dan tidak mungkin dimenangkan, tulis Bair, namun di sanalah pelajarannya. Permainan yang sering kita temui lewat game watch 1990-an ini tidak menghadapkan kita dengan seorang lawan—kecuali diri kita sendiri. Fokus dalam permainan ini adalah bagaimana kita menyusun bongkahan-bongkahan, yang datang tanpa jeda, menjadi sebuah rangkaian yang akan membuka jalan menuju kesempatan berikutnya. Bahkan, ketika kita salah menaruh bongkahan, masih ada kesempatan dalam bentuk bongkahan lain. Tidak seperti catur, tidak ada langkah-langkah spesifik memenangkan permainan, tidak ada lawan untuk disalahkan, dan tidak ada final boss—semua hanya bagaimana soal konsentrasi terhadap diri kita sendiri. Well, bukankah hidup juga seperti itu? Hidup sebenarnya adalah seni melukis tanpa menggunakan penghapus.
Menyimak Filsafat Jawa
Di samping membuka artikel-artikel yang datang dari negeri Barat, saya menyempatkan diri pula kembali ke akar saya dengan mengamati bagaimana budaya Jawa melihat masalah ini. Setelah saya amati, rupanya budaya Jawa juga tak kalah dahsyatnya dengan ajaran Zen yang begitu memfokuskan keseimbangan dalam diri. Ada sebuah prinsip yang kurang lebih sama dengan pernyataan-pernyataan di atas: “wong menang iku wong sing bisa ngasorake priyanggane dewe”, atau dalam bahasa Indonesia, pemenang adalah orang yang mampu mengalahkan dirinya sendiri. Dalam Islam pun, ada sebuah riwayat—walaupun ada sebagian ulama menganggap lemah—yang menyatakan bahwa jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu yang ada dalam diri manusia.
Ada prinsip lain yang menegaskan pentingnya pengembangan diri sendiri, seperti (1) sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti, atau segala sifat angkara murka akan kalah oleh kelembutan hati; (2) ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha, atau berjuang tanpa mengandalkan bala bantuan, menang tanpa merendahkan, sakti tanpa jimat, dan kaya tanpa mengandalkan materi; ataupun (3) sapa weruh ing panuju sasad sugih pager wesi, siapa yang tahu tujuannya, maka ia akan terarah jalan hidupnya. Walaupun berbeda-beda pesan, semua prinsip yang saya kutip bermuara pada satu pemahaman: bahwa fokus terbesar tetap patut diberikan kepada diri sendiri. Pada kutipan (2) yang terkesan seperti ajaran Sun Tzu tentang seni peperangan saja, nasihat tetap ditujukan agar seorang individu memiliki integritas dalam berperilaku, bukan kepada bagaimana kita menaklukkan lawan.
Tentang Membandingkan Diri
Theodore Roosevelt pernah berkata, bahwa comparison is the thief of joy, membanding-bandingkan diri adalah pencuri kebahagiaan kita. Berdasarkan sebuah lokakarya psikologi yang saya pernah datangi, manusia memiliki tendensi untuk berpikiran negatif. Dengan membandingkan diri kita dengan orang lain, pikiran negatif akan lebih dulu memasuki alam bawah sadar kita, dan secara tidak langsung membuat kita buta akan progres yang kita buat sendiri. Hasilnya, kita akan lebih cepat putus asa dalam berjuang, atau kata orang Jawa, mutung.
Salah satu titik rawan menganggap hidup sebagai persaingan, adalah tendensi kita untuk membandingkan diri dengan orang lain. Padahal, selalu ada langit di atas langit, dan manusia diciptakan tidak pernah merasa puas. Hal ini makin parah apabila kita berangkat dari kondisi depresi. Negativitas hanya akan melahirkan negativitas yang berkelanjutan, dan hal ini tidak baik untuk pengembangan diri kita di masa depan.
Satu-satunya orang yang perlu kita bandingkan dengan diri kita di masa kini, adalah diri kita di masa lalu. Mungkin hal tersebut terdengar klise, namun tidak semua orang mampu mempraktikannya—sedikit yang melakukan upaya nyata untuk mengukur sejauh mana mereka telah melangkah. Dalam seminggu, ada baiknya kita luangkan satu hari untuk merenungi sejauh apa diri ini berkembang. Dengan demikian, kita akan lebih dapat menghargai progres, dan merasa lebih baik akan hal tersebut. Tentu saja hal ini lebih produktif ketimbang membandingkan diri dengan orang lain—karena kadang kita lupa, bahwa kita lebih suka membandingkan hasil, abai akan proses bagaimana orang tersebut sampai di titik yang ia tempati.
Don’t compare your backstage to someone’s front stage, or your first chapter to someone’s epilogue.
Mulai hari ini, saya berupaya untuk merombak cara pandang saya, dan mencoba hidup lebih tenang dengan mengatakan: saya tidak sedang bersaing dengan siapapun kecuali diri sendiri. Saya yakin, ketika saya berhasil menaklukkan diri sendiri, banyak hal baik di masa depan telah menanti untuk direngkuh. So, hello future! J

Selasa, 19 Januari 2016

Sejumlah Pelajaran dari The Old Man and the Sea

Menjelang kuliah S2 pada Februari mendatang, saya berusaha untuk menghidupkan kembali hobi membaca buku. Hobi yang sempat mati suri karena diambil alih smartphone ini coba saya mulai dengan bacaan-bacaan ringan, karena saya tahu bahwa beberapa bulan ke depan, saya harus berhadapan dengan buku dan jurnal yang berbobot.

Berkelana sejenak di Goodreads, sembari googling sana-sini, saya menemukan sebuah judul buku. The Old Man and the Sea, itu tajuk yang tertulis di sampulnya. Novel pendek karangan Ernest Hemingway ini rupanya bukan sembarang buku. The Old Man and the Sea telah diganjar Penghargaan Fiksi Pulitzer pada 1953, dan kemudian mengantarkan Ernest Hemingway mendapatkan Nobel Sastra pada tahun berikutnya.

Konon, seorang Leonardo diCaprio menobatkan novel ini sebagai buku favoritnya. Mungkin saja buku ini sedikit banyak telah mengantarkannya sebagai seorang aktor yang tangguh, dan terus berusaha menampilkan kualitas terbaiknya walaupun belum pernah dapat Oscar.

Novel yang ringkas, ditambah dengan narasinya yang menarik, membuat saya mampu melahap kisah ini dalam waktu sekitar satu jam. Berikut adalah review saya mengenai The Old Man and the Sea.

***

Novel ini bercerita mengenai seorang pria asal Kuba bernama Santiago. Ia adalah seorang pelaut tua yang dalam tugasnya selalu ditemani oleh sesosok anak muda bernama Manolin. Pada awal kisah, ia diceritakan telah melalui 84 hari melaut tanpa hasil. Hal ini membuat Manolin dilarang oleh orangtuanya untuk kembali menemani Santiago, karena dianggapnya membawa ketidakberuntungan, dan pergi dengan pelaut-pelaut lain yang dinilai lebih berhasil. Walau begitu, Manolin tetap berkunjung ke gubuk Santiago setiap malam untuk mempersiapkan makanan, maupun untuk sekadar berbincang.

Pada hari ke-85, Santiago memutuskan untuk kembali melaut. Ia memasang umpan terbaiknya, berupa sejumlah ekor tuna, dan menanti hingga siang. Tak disangka, umpannya disambut oleh seekor ikan dengan kekuatan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya. Ikan tersebut rupanya adalah seekor marlin. Tak kuasa melawan kekuatan dari sang marlin, perahu Santiago malah terseret jauh ke lautan bebas. Di sinilah konflik yang seru dimulai. Tubuh renta Santiago dipaksa untuk bertarung melawan marlin raksasa; di sisi lain, tekanan psikologis yang dialaminya setelah 84 hari gagal mendapatkan ikan membuatnya tidak menyerah begitu saja. Dua hari dua malam, Santiago bertahan hidup dengan memakan tuna mentah, yang seharusnya menjadi umpan untuk ikan yang dipancingnya. Sementara itu, di tengah penderitaannya, perlahan Santiago merasakan simpati kepada marlin yang tersangkut di tali pancingnya. Beberapa kali ia berbicara pada ikan itu, menyebut marlin tersebut sebagai saudaranya, bahkan Santiago pun berkata bahwa tidak ada seorangpun yang berhak memakan sang ikan. Pada hari ketiga, Santiago memutuskan mengakhiri perlawanan marlin tersebut dengan menusuknya dengan sebilah harpoon. 

Apa yang dipikir Santiago sebagai akhir dari nasib malangnya ternyata belum usai. Sepulangnya dari melaut, perahu Santiago, yang kini membawa seekor marlin besar, diserang oleh sekawanan hiu. Saat Santiago berhasil membunuh seekor, kawanan lain bergantian datang dan melahap marlin itu sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, sesampainya di dermaga, yang tersisa hanyalah tulang belulang, dengan ekor dan kepala yang menunjukkan sisa kegagahan sang ikan marlin.

Keesokan harinya, sejumlah pelaut terkejut melihat perahu dengan kerangka marlin itu. Seorang pelaut mengatakan bahwa marlin tersebut memiliki panjang 18 kaki (kurang lebih 5,5 meter). Ada pula turis yang mengiranya seekor hiu, walau kenyataannya bukan. Sementara itu, Santiago tertidur pulas oleh kelelahannya, dengan Manolin menemani di samping, sembari berjanji bahwa suatu saat mereka akan melaut bersama lagi.

***

Tentu saja, ada sejumlah pesan moral yang bisa kita dapatkan dari novel ini. Mengingat popularitasnya, barangkali apa yang akan saya tuangkan hanya akan menjadi sebuah review lain akan karya emas ini. Walau demikian, izinkan saya berbagi pelajaran apa yang saya dapatkan dari membaca novel singkat ini.

Keteguhan

Santiago dikisahkan gagal mendapatkan hasil maksimal selama 84 hari 84 malam melaut. Namun demikian, hal tersebut tidak menghentikannya untuk melaut pada hari ke-85. Keteguhan adalah pelajaran pertama yang bisa dipetik dari novel ini. 

Lajos Kassai, seorang pemanah asal Hungaria, dalam buku Attila karya John Man, mengatakan bahwa rasa sakit dan penderitaan tidaklah sama. Baginya, tidak ada seorangpun yang membebankan rasa sakit. Ia bebas merasakan berapapun rasa sakit, selama ia tahu bahwa ia tengah mengalami sebuah peningkatan.

Dalam sebuah kutipan lain, Santiago berujar, “A man can be destroyed but not defeated". Seseorang bisa dihancurkan, namun tidak bisa dikalahkan. Mengapa tidak sebaliknya? Bukankah selama ini kita percaya bahwa hancur adalah konotasi yang lebih buruk ketimbang kalah? 

Tatkala merenungkan ujaran tersebut, saya teringat sebuah perkataan populer di kalangan aktivis HAM, "Suaraku akan terdengar lebih nyaring dari balik liang kubur". Pada poin ini, saya mampu menangkap logika dari ungkapan tersebut. Kehancuran adalah sebuah kondisi morfologis yang dipersepsikan oleh orang lain, sedangkan kekalahan adalah sebuah state of mind: sebuah pengakuan bahwa keadaan telah berdiri lebih besar dari kemauan, dan sebuah keputusan untuk berhenti mengejar mimpi. Hal ini tidak berlaku bagi Santiago. Integritasnya sebagai nelayan diuji dalam kondisi tersulit. 

“I’ll fight them until I die,” ungkap Santiago saat sekawanan hiu mencoba merampas marlin buruannya.

Kerendahan Hati

“And the best fisherman is you.” 
“No. I know others better.” 
“Que Va,” the boy said. 
“There are many good fishermen and some great ones. But there is only you.” 
“Thank you. You make me happy. I hope no fish will come along so great that he will prove us wrong.”

Itu adalah potongan dialog singkat yang terjadi antara Santiago dan Manolin. Dalam novel ini, Manolin memandang sosok Santiago sebagai seorang role model yang luar biasa. Pun, sejatinya, Santiago pun memiliki kesempatan yang begitu banyak untuk memamerkan segala pengalamannya, atau minimal melakukan humble bragging. Namun nyatanya, Santiago merasa bahwa masih banyak orang yang lebih baik darinya. Ini adalah pelajaran kedua, bahwa kerendahan hati adalah kualitas seorang manusia bijaksana, karena ia mempersilakan perilaku kita berbicara lebih banyak.

Dalam The Old Man and the Sea, keteguhan Santiago yang tiada banding adalah yang membuatnya dikenang Manolin sebagai pelaut terbaik, bukan dari apa yang ia bangga-banggakan. Membanggakan diri mungkin akan menutupi sisi lemah diri kita, namun apa yang membekas di hati orang lain adalah apa bisa kita tawarkan di balik setiap ucapan kita.

Respek

Walaupun inti novel ini berkisah mengenai pertarungan antara Santiago dengan sang ikan marlin, Hemingway menggambarkan Santiago sebagai sosok yang penuh respek, bahkan kepada lawannya. Saat membaca plot ini, saya membayangkan pertarungan ini sebagai sebuah pertandingan MMA yang keras dan tanpa ampun, namun para petarung saling berpelukan dan melempar pujian saat pertandingan usai.

Santiago, berlatar belakang sebagai nelayan veteran, sadar sepenuhnya bahwa semua makhluk sejajar di hadapan alam. Semuanya memiliki kekuatannya masing-masing. Beberapa kali, Santiago juga memuji sang marlin karena perjuangannya bertahan hidup yang luar biasa: menyeret perahu selama tiga hari dengan kondisi terkait pada tali pancing.

"...they are not as intelligent as we who kill them; although they are more noble and more able," begitulah pujian Santiago kepada ikan marlin itu. Secara tidak langsung, hal ini juga memberi tamparan kepada kita, sosok manusia yang kerapkali merasa arogan di hadapan lingkungan. Mengabaikan fakta bahwa kita semua berbagi satu bumi yang sama.

Saat Santiago memutuskan untuk membunuh sang marlin dengan harpoon pun, ia masih sempat memuji kekuatan sang ikan raksasa. "There is no one worthy of eating him from the manner of his behaviour and his great dignity," tulis Hemingway, mendeskripsikan dengan luwes pergolakan batin yang dialami Santiago.

Mempersiapkan Diri dengan Matang

Tidak seperti FTV yang menyajikan sosok serba sempurna, Hemingway menawarkan tokoh Santiago sebagai seorang manusia yang memiliki kekurangan di balik segala pengalamannya melaut. Dalam beberapa monolognya, Santiago diceritakan menyesal karena kurang mempersiapkan diri dalam pencariannya yang tak didampingi Manolin.

“I wish I had a stone for the knife,” ujar Santiago ketika ia sadar bahwa pisaunya telah tumpul. Ataupun ketika ia terjebak di tengah laut tanpa makanan yang layak, sehingga ia harus memakan ikan mentah, ia sempat pula menyadari kesalahannya dengan berkata, "I will never go in a boat again without salt or limes”.

Santiago, tidak mengetahui bahwa pencariannya pada hari ke-85 akan mempertemukannya dengan seekor marlin raksasa, kurang mempersiapkan diri dengan peralatan yang memadai. Hal ini memberi kita pelajaran untuk selalu mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang ada.

Belajar dari Kesalahan

Ada yang mengatakan bahwa "Orang bodoh belajar dari kesalahan sendiri, orang pintar belajar dari kesalahan orang lain". Saya adalah orang yang tidak setuju dengan ungkapan ini. Bagi saya, belajar dari diri sendiri membuat kita bijaksana, dan belajar dari orang lain membuat kita waspada. Orang bodoh adalah yang tidak mau mengambil pelajaran sama sekali. 

Saya menginterpretasikan sosok Santiago dan Manolin sebagai dwitunggal, personifikasi dari masa lalu dan masa depan. Santiago menggambarkan masa senja yang konservatif, penuh pengalaman, namun diwarnai dengan kegagalan; di sisi lain, Manolin merupakan gambaran masa depan yang penuh pengharapan, kritis, dan optimis. 

Seolah-olah, novel ini berakhir dengan sedih: Santiago lagi-lagi gagal mendapatkan hasil dari pencariannya di hari ke-85. Namun demikian, apabila kita menginterpretasikan novel ini dari sisi lain, sejatinya Hemingway menyisakan sebuah ruang bagi kita merasa optimis. Dialog yang terjadi di akhir novel adalah gambaran sebuah regenerasi dari Santiago kepada Manolin, sebuah tindakan berdamai dengan masa lalu, dan membuka diri kepada skenario Tuhan untuk menerima pengalaman-pengalaman baru yang sudah menanti di depan.

“You must get well fast for there is much that I can learn and you can teach me everything. How much did you suffer?” 
“Plenty,” the old man said.

Santiago, sebagai representasi dari masa lalu, dengan bijak mengakui bahwa penderitaan adalah sebagian dari pembelajaran. Untuk dapat maju, dan menjadi sosok yang lebih dewasa, pengakuan ini perlu diresapi di dalam hati. Kurang lebih, ini sejalan pula oleh yang didendangkan Frank Sinatra dalam lagu wajibnya, My Way, "I've had my fill, my share of losing. And now, as tears subside, I find it all so amusing."

Menghargai Perjuangan Orang Lain

Filsuf kondang, Plato, konon pernah berujar bahwa kita harus bersikap baik, karena setiap orang tengah menghadapi pertempuran yang tidak kita tahu. Mungkin hal ini pula yang menginspirasi bagaimana Hemingway mengakhiri The Old Man and the Sea. 

Pada akhir novel, para penduduk pantai dikisahkan berkumpul mengitari perahu Santiago. Mereka semua takjub dengan kerangka marlin yang masih bersandar di badan perahu tersebut. Beberapa mengira bahwa kerangka itu milik seekor hiu, mengasosiasikannya dengan ukuran yang terlampau besar untuk seekor ikan buruan biasa. Satu hal yang pasti, mereka semua menyayangkan bahwa ikan sebesar itu berakhir tak ubahnya seonggok sampah. Pada akhirnya, hanya Santiago, lautan lepas, dan Tuhanlah yang tahu bagaimana drama yang tersaji selama tiga hari tiga malam itu.

Dengan sudut pandang orang ketiga, Ernest Hemingway mencoba meletakkan kita di dalam sepatu yang sama dengan Santiago. Sehingga kita bisa merasakan bagaimana seluruh perjuangan Sang Pria Tua, dan kondisi batin apabila perjuangan kita akhirnya dianggap sebagai hal yang tidak bernilai. Sebuah hal lain yang bisa kita pelajari adalah untuk selalu menghargai perjuangan orang lain, dan tidak menghakimi tanpa coba memahami terlebih dahulu. 

Dalam hal ini, kita patut mengapresiasi kejeniusan seorang Ernest Hemingway.

***

“But man is not made for defeat,” he said. “A man can be destroyed but not defeated.” 

Selasa, 20 Oktober 2015

Dikibuli Lagu!

Baru pertama kali ini saya merasa dikibuli sebuah lagu.

Sedari kecil, saya merupakan penggemar lagu-lagu oldies mancanegara. Apabila ditanya, saya akan jauh lebih paham lagu-lagu angkatan Frank Sinatra dan Elvis Presley ketimbang Meghan Trainor atau Justin Bieber. Nah, salah satu dari lagu-lagu yang saya dengarkan adalah Girl on the Bus dari Cliff Richard. Lagu ini lumayan sering saya dengarkan semasa kecil, lewat siaran radio. Tembang satu ini bernuansa hawaiian dan memiliki irama yang mendayu-dayu. Dilihat dari judul dan liriknya, sekilas lagu ini bercerita tentang kekaguman sang protagonis akan seseorang yang acap lewat di depan rumahnya menggunakan bus. Romantis sekali, saya pikir. Kisah tentang pemuja rahasia memang gak ada habisnya jadi bahan karya seni.

Salah? Nggak.

Entah karena saya yang kurang perhatian, saya nyaris tak pernah benar-benar mendalami lagu ini sampai habis. Pun, bisa dibilang kalau lagu ini bukan masuk favorit saya, jadi cuma asal dengar dan tahu saja. Hingga suatu hari, entah kesurupan apa, mungkin karena kebutuhan nostalgia, atau karena terlalu sering ketemu bus di jalanan, alam bawah sadar saya mengeluarkan Girl on the Bus dari kotak memorinya. Seketika terlintas untuk menggogle lagu ini beserta liriknya. Siapa tahu, kali ini saya bisa lebih menikmati tembang kenangan ini.

Sometimes when I look from my window I’ll see
A beautiful stranger who beckons to me 
I know where she comes from 
But where does she go 
One day I’ll go with her and then I shall know

Each day when she passes at ten twenty-three 
Her eyes find my window 
She’s smiling at me 
I run to the stairs 
But too late she is gone 
She’ll back tomorrow at a quarter past one 

Ah, rupanya lagu ini enak juga ya kalau didengarkan sekarang, pikir saya. Intronya yang khas nuansa hawaiian langsung menyapa telinga. Liriknya juga tak jauh dari pemahaman saya waktu kecil: masih seputar seseorang yang menjadi pengagum rahasia perempuan misterius, yang kebetulah sering lewat naik bus.

"Kalau dipikir, hebat juga ya si protagonis ini. Dia tahu si cewek dari mana, bahkan hafal sampai ke jadwal-jadwalnya segala," pikir saya. Biarin aja deh, namanya juga lagu.

Oke, lagu pun berlanjut ke bait-bait selanjutnya.

On Sundays I miss her 
She doesn’t come back 
I don’t know the reason 
Guess I’ll never know why 
She may go away for the weekend 
But then she’ll come back on Monday at twenty past ten 

Makin ke sini, saya makin berpikiran bahwa lagu ini bukan sekedar tentang pemuja rahasia. Ini sih lebih mirip creepy stalker. Kalau saya jadi si cewek, udah ogah deh lewat sana, takut diapa-apain! 

Rasa penasaran akhirnya membawa saya menyelesaikan bagian terakhir lagu ini.

The week passes quickly and often I’ll see 
That beautiful stranger who beckons to me 
She stands on an island surrounded by sea 
And the smile on her lip says, "Fly B.O.A.C."

Lho...lho...LHO

Saya tersadar akan hal yang selama ini saya lewatkan dari lagu ini.

BENTAR.

B.O.A.C ITU APAAN???

Usut punya usut, setelah konsultasi ke Mbah Google, saya dapati bahwa B.O.A.C adalah singkatan dari British Overseas Airlines Corporation. Sekadar informasi saja, B.O.A.C ini adalah maskapai penerbangan yang pada 1974 ganti nama menjadi British Airways, maskapai penerbangan nasional Britania Raya.

Otak saya langsung menarik kesimpulan: Sang "The Girl on the Bus" rupanya adalah ilustrasi iklan maskapai B.O.A.C yang nampang di bus kota. Dengan kata lain, si "cewek" memang "on the bus", tapi sebagai hiasan yang nempel di badan kendaraan!

Jelas sudah, mengapa sang protagonis sangat hafal kapan si cewek lewat depan rumahnya. Lha wong bus lewat pasti ada jadwalnya!

SERIOUSLY, SIR?

THIS SONG IS ABOUT A DUDE WHO FELL IN LOVE WITH AN ADVERTISEMENT.

Well played, Mister.

Saya merasa dibohongi karena terlalu berbaik sangka terhadap lagu ini. Di sana, saya beranggapan bahwa creepy stalker masih mendingan lah, kalau ini sih sudah level delusional namanya.

Di balik itu semua, saya mengapresiasi kreativitas musisi-musisi jadul. Mereka bisa mengemas sebuah twist yang begitu kocak melalui komposisi lirik dan melodi yang melankolis. Sehingga, kalau tidak diamati sedemikian rupa, lagu ini hanya terdengar seperti love song biasa. Ini yang menurut saya kurang dimiliki lagu-lagu era sekarang, di mana lirik disampaikan secara lugas (bahkan kadang terlalu lugas)

After all, tentu saja orang-orang menyebutnya evergreen bukan tanpa alasan. Salut.

Ealah, terlanjur serius...jebule sing di-sir mung gambar nang bis

Senin, 19 Oktober 2015

Megalofobia

Pernahkah kalian merasakan gelisah, merinding, hingga terkena panic attack tatkala berdekatan dengan benda besar? Kalian tidak sendirian, karena saya juga mengalaminya. Belakangan ini, saya berhasil mengidentifikasi fobia tersebut, yang dalam psikologi dinamakan megalofobia.

Saya menggali info soal ini, karena suatu hari mendapatkan pertanyaan soal fobia di askfm. Seketika, saya tersadar bahwa saya juga mengalami gejala megalofobia ringan.

Megalofobia, secara umum, dapat diartikan sebagai fobia terhadap benda-benda berukuran besar. Namun demikian, pada kenyataannya, tidak semua pengidap megalofobia mengalami ketakutan akan objek yang sama. Ada pengidap yang terpicu oleh bangunan, dan ada pula yang hanya terpicu oleh benda bergerak. Secara ekstrem, ada yang terpicu oleh semua benda yang dinilainya berukuran "tidak wajar", seperti pensil berukuran jumbo (seperti yang pernah booming di Indonesia pada awal 2000-an), atau rumah berwujud sepatu.

Dalam kasus saya, megalofobia hanya muncul ketika saya berdekatan dengan benda-benda bergerak, atau memiliki kesan bisa bergerak. Bangunan, secara umum, bukan masalah buat saya, bahkan saya suka melihat gedung-gedung tinggi. Nah, contoh benda bergerak (atau dengan kesan bisa bergerak), misalnya: pesawat terbang rendah, kapal, patung hewan dalam posisi aktif (burung terbang, kuda berlari, atau sejenisnya).

Oh iya, dalam kasus pesawat dan kapal, megalofobia hanya muncul saat saya berada di luar (sehingga bisa melihat wujud bendanya); kalau saya di dalam sih, nyaman aja.

BUYAR

Apa? Ini bukan dua gambar terpisah? OH DEAR
DHUH GUSTI NYUWUN PANGAPURA
NO THANKS

Megalofobia saya bisa makin parah misalnya benda-benda tersebut sudah berhubungan dengan laut. Oleh karena itu, kapal lebih bikin saya keder ketimbang pesawat terbang. Entah mengapa, laut seakan menyimpan sesuatu yang tidak pasti, dan siap mengancam kapan saja. Saya nggak nyaman lihat ilustrasi tsunami, perbandingan paus biru dan manusia, apalagi gambar-gambar leviathan kaya kraken.

Ini juga alasan kenapa saya langsung ogah nonton Jurassic World ketika poster filmya sudah menampilkan mosasaurus, dengan mulut menganga, tengah mencoba memangsa hiu putih yang kelihatan sudah pusing pala berbi (YES, THAT ALREADY-GREAT WHITE SHARK)



NOPE NOPE NOPE


Berdasarkan istilah, nama fobia ini jadi lebih kompleks lagi: megalohidrothalassofobia. Hayoh, makin susah ngejanya.

Frequently Asked Question: "Lho Mas, Monumen Kapal Selam gimana?"
Jawaban: Monumen Kapal Selam sudah saya anggap bangunan, so that's fine.

Berdasarkan sejumlah artikel yang saya baca, megalofobia, begitupun dengan fobia-fobia lain, bisa muncul karena trauma masa kecil. Bisa jadi, seseorang mengidap megalofobia karena pernah tersesat di sebuah kota dengan gedung-gedung tinggi; bisa juga megalofobia muncul karena seseorang pernah diserang oleh hewan berukuran besar saat mereka kecil, sehingga memunculkan asosiasi dalam pikiran bahwa segala sesuatu berukuran besar dapat mengancam.

Saya sendiri tidak tahu pasti apa yang menyebabkan saya juga punya gejala megalofobia. Namun demikian, saya ingat bahwa saya pernah freaked out melihat adegan tenggelamnya Titanic di video klip My Heart Will Go On (yongkru, jaman MTV jaya). Bayangkan saja, melihat kapal se-jumbo itu tenggelam dalam posisi nyaris vertikal adalah pemandangan terseram buat saya yang saat itu masih TK (dan tentunya belum terpapar Dunia Lain, creepypasta, maupun disturbing picture-nya Kaskus).

Untunglah, sebagaimana sudah saya sebutkan sebelumnya, megalofobia yang saya alami ini tergolong ringan. Saya hanya merasa nggak nyaman misal dekat dengan pemicu, bukan yang sampai kena panic attack, apalagi sampai teriak-teriak. Bahkan, ketimbang menjauhi pemicu-pemicu tersebut, saya malah makin penasaran, dan punya guilty pleasure dengan mencari gambar-gambar pemicu megalofobia. Yah, hitung-hitung terapi. Situs internet terkemuka, Reddit, bahkan punya subreddit (thread) yang khusus mengumpulkan gambar atau video dari para user, yang menurut mereka mampu memicu megalofobia. Di sana, saya mengerti bahwa saya tidak sendirian. Banyak orang dengan gejala yang sama, namun mencoba untuk menghadapi ketakutan mereka dengan cara yang asyik. Lagipula, cara terbaik menghilangkan ketakutan adalah dengan menghadapi sumbernya, apalagi kalau dibawa dengan cara fun, ya nggak?

Face your fear!